Saya sedang bergaya anak muda
datang memasuki sebuah resto berjudul Burger Grill
Sesak
Penuh Sesak
Sesak karena begitu banyak makhluk pacaran
di lingkungan sekitar
Sial
Sungguh sial
Saya duduk merasuki ruangan bermain anak2
Sial
Sungguh Sial
Semua tempat penuh
Saya pun penuh
penuh dengan perasaan kesal berkarena saya benci anak2
Oh Sial kuadrat
Selain makhluk pacaran
banyak pula makhluk beranak
Oh Sial pangkat tiga
BERISIIKK...
oh sial pangkat empat
saya mulai linglung
keracunan teriakan bocah
...
*Cause she had a bad day... La la la*
Blog bodoh yang dibuat secara bodoh dengan menggunakan kebodohan dimana kebodohan itu di cetak dalam sebuah blog bodoh... Kok balik lg? Bodoh. Ini cuma blog bodoh yang dibaca oleh orang2 pintar...
Sabtu, 30 Mei 2009
Jumat, 29 Mei 2009
persahabatan ANGIN dengan PUP
hari ini saya belum kentut
belum pret
hari ini orang-orang pasti menyesal
menyesal yang sangat dalam
menyesali mengapa mereka tidak dapat
menikmati kentut yang biasanya saya hembuskan
baik secara langsung, maupun secara paksa
saya selalu berpikir
ya iya iya
kalau saya brenti mikir.
mampus dong
metong dong
gimenong sich yey
saya pikir, kenapa oh kenapa kentut saya bau?
apa karna dosa saya dikandung badan sampe busuk?
apa musti tobat dulu baru kentut saya wangi?
ah saya yakin seyakin-yakinnya SBY memerintah negeri ini
yakin kalau kentut para ulama itu pasti bau
sayang, saya ga bisa pastikan apa nabi itu juga kentut
dan jikalah iya, maka apakah itu bau?
saya juga yakin.
yakin ini akibat persahabatan angin dengan pup yang belum saya tabung ke banKloset. yang bikin angin dan pup merajalela menjadi kentut.
alangkah indahnya.
itulah mengapa saya kadang berpikir untuk tidak kentut sesudah saya 'nabung'
supaya kentut saya bau.
supaya perasaan si angin tak hampa
hampa karena terpisah dengan sahabatnya.
saya akui, saya ini memang hebat.
di dalam diri saya, ada persahabatan
persahabatan yang katanya siapa itu, mirip kepompong.
belum pret
hari ini orang-orang pasti menyesal
menyesal yang sangat dalam
menyesali mengapa mereka tidak dapat
menikmati kentut yang biasanya saya hembuskan
baik secara langsung, maupun secara paksa
saya selalu berpikir
ya iya iya
kalau saya brenti mikir.
mampus dong
metong dong
gimenong sich yey
saya pikir, kenapa oh kenapa kentut saya bau?
apa karna dosa saya dikandung badan sampe busuk?
apa musti tobat dulu baru kentut saya wangi?
ah saya yakin seyakin-yakinnya SBY memerintah negeri ini
yakin kalau kentut para ulama itu pasti bau
sayang, saya ga bisa pastikan apa nabi itu juga kentut
dan jikalah iya, maka apakah itu bau?
saya juga yakin.
yakin ini akibat persahabatan angin dengan pup yang belum saya tabung ke banKloset. yang bikin angin dan pup merajalela menjadi kentut.
alangkah indahnya.
itulah mengapa saya kadang berpikir untuk tidak kentut sesudah saya 'nabung'
supaya kentut saya bau.
supaya perasaan si angin tak hampa
hampa karena terpisah dengan sahabatnya.
saya akui, saya ini memang hebat.
di dalam diri saya, ada persahabatan
persahabatan yang katanya siapa itu, mirip kepompong.
Selasa, 26 Mei 2009
FESTIVAL JEJERIT REMPONG
Hari ini saya dan kawan-kawan ribut mengartikan satu kata: “Rempong”. Berhubung dosen saya yang asli Filipina dan sudah hijrah kemana-mana itu, ingin sekali tau artinya rempong, maka kita dengan susah payah mencoba mengartikannya lewat. . .bahasa Indonesia.
Kemarin, kami, seganjil anak-anak Performing Art Communication yang berjumlah tidak genap ini melalui mid test atau bahasa kupernya Ujian Tengah Semester. Dan mid test kami untuk pelajaran Voice of Performance II: Vocal and Instruments, diharapkan dengan setulus hati untuk membuat sebuah performance. Boleh solo, duet, trio atau band atau apalah suka-suka kami. Kesenangan yang diberikan kepada kami adalah hak menentukan sendiri nama apa yang mau kami pakai guna melambangkan diri kami atau band kami.
Dan tentu saja, ada hak juga pasti ada kewajiban. Saat inilah salah sebanyakorang di kelas saya yang membentuk sebuah grup menyanyi yang bukan choir, memilih nama “Rempong” dan mereka sedang melaksanakan kewajibannya mengartikan nama tersebut.
Pertama saya jejerit, “Sibuk! Sibuk!”. Jerit paling keras supaya didengar dan diperhatikan. Biasalah, kan negara demokrasi. Kalo gak demo keras-keras, ya gak didengar.
Tapi ada juga yang menyaingi, “Rame! Rame!”
Suara ketiga bilang, “Ribet!!”
Suara keempat, “Riweh!!”
Suara saya, “Sulit!” agak gak nyambung, tapi biarlah... asal teriak.
Suara teman saya, “Busy!Busy!!”
Suara teman saya yang lain, “Complicated!!!”
Suara saya lagi, “Masa susah! Pancaroba!!” sangat gak nyambung, tapi biar lagi lah...
Saat itu sepertinya tidak ada teman yang tau saya teriak itu. Mungkin sibuk bikin bingung dosen saya. Kalau ada diantara kalian yang juga bingung, kenapa saya memilih pancaroba untuk arti sebuah “Rempong”, alasannya adalah....
KARENA,
Rempong itu situasi yang sibuk, riwet, ribet, riweh,membingungkan. Nah, dalam masa itu, tentu sangat bisa kita sebut masa sulit. Masanya orang-orang kesusahan. Ya, pancaroba-pun sebenarnya juga sebuah realitas masa sulit.
Jadi, ada yang setuju bahwa REMPONG berarti PANCAROBA?
Kemarin, kami, seganjil anak-anak Performing Art Communication yang berjumlah tidak genap ini melalui mid test atau bahasa kupernya Ujian Tengah Semester. Dan mid test kami untuk pelajaran Voice of Performance II: Vocal and Instruments, diharapkan dengan setulus hati untuk membuat sebuah performance. Boleh solo, duet, trio atau band atau apalah suka-suka kami. Kesenangan yang diberikan kepada kami adalah hak menentukan sendiri nama apa yang mau kami pakai guna melambangkan diri kami atau band kami.
Dan tentu saja, ada hak juga pasti ada kewajiban. Saat inilah salah sebanyakorang di kelas saya yang membentuk sebuah grup menyanyi yang bukan choir, memilih nama “Rempong” dan mereka sedang melaksanakan kewajibannya mengartikan nama tersebut.
Pertama saya jejerit, “Sibuk! Sibuk!”. Jerit paling keras supaya didengar dan diperhatikan. Biasalah, kan negara demokrasi. Kalo gak demo keras-keras, ya gak didengar.
Tapi ada juga yang menyaingi, “Rame! Rame!”
Suara ketiga bilang, “Ribet!!”
Suara keempat, “Riweh!!”
Suara saya, “Sulit!” agak gak nyambung, tapi biarlah... asal teriak.
Suara teman saya, “Busy!Busy!!”
Suara teman saya yang lain, “Complicated!!!”
Suara saya lagi, “Masa susah! Pancaroba!!” sangat gak nyambung, tapi biar lagi lah...
Saat itu sepertinya tidak ada teman yang tau saya teriak itu. Mungkin sibuk bikin bingung dosen saya. Kalau ada diantara kalian yang juga bingung, kenapa saya memilih pancaroba untuk arti sebuah “Rempong”, alasannya adalah....
KARENA,
Rempong itu situasi yang sibuk, riwet, ribet, riweh,membingungkan. Nah, dalam masa itu, tentu sangat bisa kita sebut masa sulit. Masanya orang-orang kesusahan. Ya, pancaroba-pun sebenarnya juga sebuah realitas masa sulit.
Jadi, ada yang setuju bahwa REMPONG berarti PANCAROBA?
Rabu, 20 Mei 2009
Semalam Dengan Kenny
Malam ini hujan turun lagi, sama seperti hari kemarin. Setiap malam dingin, setiap malam gak mandi. Habis mau bagaimana lagi, saudara? Kaki kering aja dingin, apalagi kaki basah?
Tidurpun tetap kedinginan. Mimpipun, mimpi dikubur dengan salju. Coba itu, pakai selimutnya. Saya pakai selimut saya. Wahai kawan, selimut saya aja dingin. Selimut apa ini? Mana janji si Abang di Tanah Abang ketika ibu saya beli selimut ini? Katanya bisa jadi hangat kalau ditiduri selimut. Ini malah selimut yang minta dihangatkan sama saya. Untung pacar saya gak liat, kalo dia liat bisa cemburu buta.
Aduh emak, kaki ini mati rasa-pun. Harus digosok berapa lama lagi supaya hangat? Aduh emak, tangan ini dingin kali pun. Harus berapa lama lagi saya jepitkan ke ketek? Aduh emak, ketek saya ikut dingin pun...
Saya ingat Mama. Lagi apa ya dia sekarang? Mungkin duduk di rumah sambil nonton sembari angkat kaki dan jepit rokok di tangan. Pernah saya dan Rio, kakak saya, mau belikan dia asbak yang bentuknya paru-paru. Biar dia liat waktu dia ketuk-ketuk rokok di asbak, dia sedang mengotori paru-paru. Mamak, berhentilah rokoknya. Dikumpulin uangnya. Kata Dokter, kalo dihitung-hitung, bisa bikin hotel, Mamak...
“Emang si dokter yang gak ngerokok itu udah punya hotel?”
Saya langsung diam. Pasang headset. Dengar lagu MP3.
Dengar lagu MP3... Seperti sekarang ini... Oh, ini Kenny G.
Itu lagu Kenny G, ya Allah... Si peniup yang Kau ciptakan itu. Masa lupa? Hari sudah malam dan dingin begini, masih aja dia tiup-tiup terompet. Tahun baru rasa-rasanya udah lewat pun.
Saya goyang-goyang kepala gaya metal mendengar lagu-lagunya yang jazzy. Memang kenapa kalau saya lebih suka begitu? Saya joget dangdut kalo denger instrumen Beethoven. Saya melandai-landai kalo denger lagu Navicula. Saya diem aja kalo denger lagu dangdut. Biar dikira orang saya benci lagu dangdut. Huu... lagu kampungan. Lagu gak berkelas. Padahal dalam hati saya menjerit suka. Kalo judul lagu Rossa “Atas Nama Cinta”, kalau saya “Atas Nama Gengsi dan Nama Baik Keluarga”.
Ah, nggak. Semua saya Cuma bercanda.
Mata saya kedap-kedip. Makin lama, ketika sedang sesi merem saat berkedip, sulit sekali untuk kembali melek. Ah, saya matikan lampu, matikan Kenny, minta ditiduri selimut, tutup mata dan baca do’a.
“Ya Allah, tidur malam ini jangan lupa pake kaos kaki. Jangan seperti saya ini yang gak pake. Maklum Tuhan, kaos kaki hanya tinggal sebelah...”
Tidurpun tetap kedinginan. Mimpipun, mimpi dikubur dengan salju. Coba itu, pakai selimutnya. Saya pakai selimut saya. Wahai kawan, selimut saya aja dingin. Selimut apa ini? Mana janji si Abang di Tanah Abang ketika ibu saya beli selimut ini? Katanya bisa jadi hangat kalau ditiduri selimut. Ini malah selimut yang minta dihangatkan sama saya. Untung pacar saya gak liat, kalo dia liat bisa cemburu buta.
Aduh emak, kaki ini mati rasa-pun. Harus digosok berapa lama lagi supaya hangat? Aduh emak, tangan ini dingin kali pun. Harus berapa lama lagi saya jepitkan ke ketek? Aduh emak, ketek saya ikut dingin pun...
Saya ingat Mama. Lagi apa ya dia sekarang? Mungkin duduk di rumah sambil nonton sembari angkat kaki dan jepit rokok di tangan. Pernah saya dan Rio, kakak saya, mau belikan dia asbak yang bentuknya paru-paru. Biar dia liat waktu dia ketuk-ketuk rokok di asbak, dia sedang mengotori paru-paru. Mamak, berhentilah rokoknya. Dikumpulin uangnya. Kata Dokter, kalo dihitung-hitung, bisa bikin hotel, Mamak...
“Emang si dokter yang gak ngerokok itu udah punya hotel?”
Saya langsung diam. Pasang headset. Dengar lagu MP3.
Dengar lagu MP3... Seperti sekarang ini... Oh, ini Kenny G.
Itu lagu Kenny G, ya Allah... Si peniup yang Kau ciptakan itu. Masa lupa? Hari sudah malam dan dingin begini, masih aja dia tiup-tiup terompet. Tahun baru rasa-rasanya udah lewat pun.
Saya goyang-goyang kepala gaya metal mendengar lagu-lagunya yang jazzy. Memang kenapa kalau saya lebih suka begitu? Saya joget dangdut kalo denger instrumen Beethoven. Saya melandai-landai kalo denger lagu Navicula. Saya diem aja kalo denger lagu dangdut. Biar dikira orang saya benci lagu dangdut. Huu... lagu kampungan. Lagu gak berkelas. Padahal dalam hati saya menjerit suka. Kalo judul lagu Rossa “Atas Nama Cinta”, kalau saya “Atas Nama Gengsi dan Nama Baik Keluarga”.
Ah, nggak. Semua saya Cuma bercanda.
Mata saya kedap-kedip. Makin lama, ketika sedang sesi merem saat berkedip, sulit sekali untuk kembali melek. Ah, saya matikan lampu, matikan Kenny, minta ditiduri selimut, tutup mata dan baca do’a.
“Ya Allah, tidur malam ini jangan lupa pake kaos kaki. Jangan seperti saya ini yang gak pake. Maklum Tuhan, kaos kaki hanya tinggal sebelah...”
Langganan:
Postingan (Atom)