Jumat, 18 Oktober 2013

DUA ORANG SATU TUBUH

"Bukan kamu yang salah, tapi aku..." adalah sebaris kalimat klise yang palsu. seperti warga negara ilegal. Hanya kedok agar, "Iya, aku mengaku salah. Kamu yang benar. Jadi, udah ya. BYE." terdengar lebih halus.

Tapi aku bukan mereka-mereka yang palsu. Biar aku katakan terus terang padamu, kamu yang salah. Kamu yang perlahan membuat aku menyingkir. Aku tidak menginginkanmu -- yang ini, yang sekarang -- kamu pribadi lain, yang ironisnya, dekat denganku tapi aku justru merasa jauh.

Kamu 2 orang dalam satu tubuh di waktu yang berbeda. Dulu kamu hangat, padaku, dan siapa saja. Sekarang kamu kulkas pribadiku--kulkas portabelku. Dulu kamu selalu ingin tau apa yang kukerjakan, atau ada dimana aku. Sekarang kamu tidak mau tau dan perhitungan dengan waktu yang kau anggap kubuang sia-sia untuk menyenangkan diriku. Kamu kalkulatorku. Pusat Algoritma.

Dulu kamu suka menyelipkan kata-kata romantis paling penuh cinta di setiap ruang dan waktu yang ada. Sekarang salam cinta terasa hambar bagai kewajiban. Seperti kebiasaan jenuh. Seperti terlalu banyak nasi dibanding lauk. Kamu robot penjawab pesan di telepon. Kamu "Maaf, nomor yang anda tuju sedang sibuk."
Kamu nasi dan robot. Jadi satu.

Damn it. Katakan terus terang padaku, kapan Alien itu membawamu?

Kamis, 21 Februari 2013

TERJATUH


Dulu aku sibuk mencari alasan kenapa aku bisa terjatuh. Terjatuhnya tidak sakit. Malah bahagia. Terjatuhnya tidak duduk, atau terjerembap,atau telentang. Terjatuhnya tidak bikin rok melorot, atau mengibas ke atas sehingga pahaku bisa jadi tontonan orang.'

Jatuhnya... di hati.

Tepatnya.... di hatimu.

Aku seperti membuat lirik lagu dangdut kacangan yang gombal dan penuh rayuan kotor tiap kali aku membicarakan dirimu. Bahwa aku tau seluruh sel dalam tubuhku menginginkanmu. Tapi malu menyebut apakah aku sayang padamu, apakah aku cinta padamu. Kata-kata itu seperti penjualan mobil Jazz di tahun pertama release. Laku keras, hingga terlalu pasaran. Aku tidak ingin menggolongkan rasa ini ke dalam sebuah kata pasaran. Juga tidak ingin menempatkan rasa ini di kata ‘nafsu’ yang malah akan membuat salah tafsir.

Selama sibuk mencari sebutan untuk rasa ini, tanpa sadar aku sudah memilih bahwa ini namanya Jatuh Hati.
Jatuh hati.

Jatuhnya bikin nyeri, tapi bukan nyeri yang bisa membuatku lebam, hanya nyeri yang bisa membuahkan rindu. Rindu yang obatnya kamu...

Aku sudah lama menyadari bahwa kamu berbeda. Tapi tidak pernah berani menyadari bahwa semua hal di dirimu menarikku masuk, sehingga hatiku, pikiranku, tidak egois. Tidak hanya memikirkan diriku sendiri, tapi juga memikirkanmu.

Kamu tidak tau perasaan ini. Dan itu tidak apa-apa. Aku akan menyalin semua rayuan dalam kepalaku, meski akhirnya rayuan itu akan jatuh ke tangan produser yang akan membawa rayuanku ke pangkuan penyanyi dangdut untuk kemudian ia nyanyikan.

Bila suatu hari nanti, kamu, sedang makan pagi dengan TV menyala, melihat seorang biduan dangdut sedang mengiba-iba dengan lirik penuh rayuan menggoda yang mesum, bisa jadi itu rayuanku. Untukmu.

Minggu, 17 Oktober 2010

a chat in chat between Me and The Panda

by Meyra Biri on Tuesday, 06 July 2010 at 10:25

Panda: eeee...bulush
10:18

Me: eee ndud
10:19

Panda: diam boris
10:19

Me: diam palupi
10:20

Panda: diam pinpinbo
10:20

Me: kentut malukiano
10:21

Panda: pup mantohihi
10:22

Me: eek sumantohihi
10:23

Panda: lucu ya pup nya sumanto?mpe ketawa geli?

Veronica's Letter of Heart 2

Dear Boris,

After the bomb went off, and it took you away from me, I just can’t control myself. I saw your body lying there, inside the hole of death. And I feel like dead already because my heartbeat will never be the same as when you’re alive.


Half of my heart has gone… Half of my life is lying inside the ground. Days will never be happy anymore. I feel useless without you. I saw stars in your eyes. But, that starlight has closed. Seeing stars in the sky is absolutely different. I saw the sun in your heart. But, the sunshine has stopped… I’ve checked it by my own ear… I put my ear on your chest… There is no sign of life…


I cry… Night and day. I hate daylight because I know my sunshine has gone. I hate when the night comes, because I know my starlight has stolen. By those fucking bomb!

The FBI came to your funeral, babe. They said sorry. What’s that ‘sorry’ means? Days after your funeral, they came again into my apartment. They saw me mourn too much. And until now, they keep telling me to go to the mental hospital.

I’m not crazy if I want you to be here again, right? I’m not crazy if I still wash your clothes, iron it, and set it for you to use it before you go to the university.I wait you come home. I set the bath tub with hot water because I know you like to spend more time there. I cook two eggs for both of us. I believe you will come home someday. I believe… No. I force you to come home. Here. With me.


I wait here…

I wait…

Veronica's Letter of Heart 1

Dear Boris,

This is the first time I visit my apartment after a long journey to face the life, to face reality that you have gone…

I go inside my apartment. It suddenly feels like a huge room. I should live there alone from now on. I don’t think I could… I can’t… I start to throw away my sheets and my chairs. I don’t need any sheets for my self. I bought all of them for US. For ME and YOU. And it’s just me now. It has lost its function. So I throw it.

These pair of chairs is just useless. I couldn’t keep it here, because the situation will never like before. We used to laugh together when we sit there, we ate breakfast together there, and we spent more time to discuss anything there. But now you are not here for forever. So I decide that these chairs also have lost its function and I should throw it. I had no one to sit with.

Oh, I see the last book that you gave me just before that bombing accident in the chess club. I forgot to read it because of that FBI and the mental problem thing. Now, I will read it… As for what you want me to do. I’ll read it for you, baby… I will…


With Love,


Veronica

PAC 11-2B. The Greatest Teamwork Ever! PART1

by Meyra Biri on Monday, 26 July 2010 at 23:13

Ceman2, takkan ada kiranya kegiatan yang sama dan pertemuan yang sesering kala itu. Namun bukan berarti kita sudahi rasa kebersamaan di hati ini begitu saja.

Veronica Cory sukses menggemparkan hati saya. Dan itu bagi saya sudah lebih dari cukup.

Veronica Cory sudah menjadi sejarah dan kenangan terindah yang gak mungkin saya lupa. Kenangan yang udah lewat, yang membuat saya kembali menjadi siluman Biri-biri.

Dan jangan bersedih kawan, karena banyak waktu yang kita punya, dan kita pasti akan berkumpul lagi.

Sebelum kita berkumpul dan tertawa bersama lagi, ada baiknya saya mengetik nama-nama penting dalam hari-hari saya kala latihan.

PART 1.


CHRISTIANI PRILINSON MAMAGHE
, The Penoda Bahasa Sastra Indonesia, betapa kamu telah lelahnya mengajari saya yang bolot setengah zombie ini berakting. Membuat agar semua ide yang ada di kepala kamu, tersampaikan ke para penonton yang mau bayar sejumlah 35.000 sekali dalam hidup mereka.

Kamu teman yang baik, dan buat saya, jasamu menyedot WC eh, maksudnya, jasamu membayari makan, eh, maksudnya, jasamu membayari nonton, eh, maksudnya, jasamu mengutangi saya, eh, maksudnya, eh wow! Ternyata sudah banyak jasamu. Baiklah.. kamu dan saya juga Tuhan dan beberapa teman pasti tau betapa banyak bantuan yang kamu limpahkan ke temanmu yang terlantar ini. Maka dari itu kupersembahkan sebuah lagu untukmu, “SIOOO MAMAAEE…”



SRI HANDAYANI BALABALA, The Keong Busuk Tukang Ojlok-ojlok Tete, bahkan pada saat saya kelimpungan mencari pegangan, kamu—entah sengaja atau tidak—berdiri di sebelah saya, menjadi pegangan untuk saya. Mungkin pada saat itu kamu berpikir, “nih orang kenape nyender2 di gw deh? Lo kira gw beton?”.

Ah tapi itu tak apa. Mungkin kamu beton, tapi kamu punya hati yang baik, temanku. Di saat senang, kamu ada. Di saat sedih, kamu ada. Di saat saya mandi, kamu juga ada numpang berak. Oh kamu selalu ada kapanpun dimanapun, sayang. Saya menyayangi kamu loh, kalau kamu mau tau. Bahkan jika kamu menelpon saya untuk keadaan darurat, dan meminta saya untuk datang menyelamatkan kamu, tak peduli malam, pagi, siang, sore, dingin, panas, hujan, badai, saya kan datang. Setelah saya sampai di sampingmu, saya akan langsung……. Berbalik dan pulang lagi ke rumah saya.

Chat Between Me and My Brother

Bukti Kalo Iyok Suka Bugil Sembarangan

Me: 14:21
yok brani bugil ga?
dibayar 9 milyar
tapi di depannya obama
cumaaa... obamanya mau ga ya?

Panda: 14:22
itu dia...
aku si mau aja....

Insiden TV Adiktif yang Rusak

by Meyra Biri on Monday, 30 August 2010 at 03:01

Kami memiliki sebuah TV layar datar yang selama ini menjadi pusat perhatian kami. Suatu hari, ia sakit. Dan biaya penyembuhannya tidak murah. jadi kami membiarkan ia teronggok menyedihkan untuk sementara.

Lalu kami memiliki penggantinya. Sebuah TV yang lebih kecil dan membuat jarak pandang kami terbatas.

Dengan kepergian TV utama kami yang selalu hadir di tiap aktivitas--seperti kecanduan obat obatan-- kami menyadari betapa bergunanya dia.
Semasa sakitnya, kami berhenti menonton DVD, berhenti menonton Indovision, beberapa sofa kehilangan fungsinya ketika dipakai untuk
menonton karena letaknya terlalu jauh, dan komputer harus bekerja keras menggantikan asyiknya nonton TV.

Sekarang, dia sudah kembali sehat berkat rezeki yang mengizinkan ahli TV datang ke rumah dan memperbaiki TV adiktif kami.

Namun, telah terbiasalah kami tanpanya. Jadi, dia sering tidak digunakan. Nongkrong begitu saja di ruang tengah. Nanti, ya... Nanti kami akan membeli beberapa keping DVD, dan akan nonton bersamamu lagi ya, TV. Nanti, ya...

Sialan, Kurang Ajar, Kamfret. Eh....


by Meyra Biri on Thursday, 09 September 2010 at 21:24


Udah mo lebaran! Maapin yak. yak. dibantu yak. jadi apa yak. sim salabim jadi apa, prok prok prok!
*gajelas*

teman2 yang baik hati, yang senasib sepenanggungan, di hari yang bentar lagi fitri ini, ingin kiranya kuucapkan kata Muhun mahap apabila sepanjang jalan kenangan kita bersama, bibir sexy ini pernah berucap kotor dan laknat, tubuh seksi ini pernah menunjukkan aurat kasih, kelakuan ini pernah membuat kalian malu hingga berpaling muka pura2 ga kenal dengan saya, OH mohon atuh dimaapkan.
semoga Lebaran kali ini membawa berkah untuk kalian semua, teman2 ku sayang.

Akhir kata, kuakhiri catatan penuh permohonan ampun dengan promosi RBT the sora - Sayonara
Telkomsel, XL, 3, Flexi = ketik SORA kirim ke 1212
Indosat = ketik MG spasi SORA kirim ke 808
Esia = ketik RING spasi SORA spasi MINGGU kirim ke 888
*contoh wanita tak mau rugi*

Selasa, 06 April 2010

aku kamu dia

Kamu jauh disana. Jauh dari dia. Kamu di dalam telepon, memenjarakan dia. Tapi dia disini, bersamaku. Baru saja dia tertawa, menertawakan kata-kata dariku untuknya. Dia begitu manis, dan menyukai hal-hal kecil. Tertawa dan aku suka senyumnya.

Tapi kamu berdering lewat handphone-nya. Dia menggeser slider dan berkata, “Hallo, sayang?”. Aku Cuma terdiam melihat jalanan. Jalanan berisik. Seperti hatiku untuk dia sekarang. Lebih berisik karena ada kamu di tengah-tengah ini semua.

Beberapa detik kemudian, aku tau kamu sedang memarahinya. Entah karena apa. Dia, kamu buat tanpa tawa. Dia melihatku dalam hitungan 1 setengah detik, tapi aku tidak berusaha melihat matanya. Matanya yang kamu buat penuh dengan kesedihan. Apa yang membuat kamu memilih untuk tidak membuatnya tertawa?

Aku berlari mencari tempat duduk, memayungi kepalaku dengan punggung tangan. Meninggalkan ia dengan suaramu. Aku memanggilnya untuk ikut denganku. Dan ia hanya mengangguk sebelum akhirnya 2 menit kemudian, ikut denganku.

Tapi ia tidak duduk denganku. Dia memilih berdiri di luar dan berbicara denganmu. Kamu tau aku memperhatikan dia? Pelan-pelan dia menggerakkan tangannya seolah-olah bicara langsung denganmu, memberimu pengertian agar tidak datang lewat gelombang dengan amarah.

Lama. Akhirnya ia menarik bibirnya dengan susah payah, mencoba tersenyum untukmu yang tidak bisa menikmati senyuman itu. Hah. Senyuman, kesabaran dan rasa sayang itu untuk kamu. Kamu yang memilikinya dan takut kehilangan dirinya, namun menumpahkan itu semua dengan marah.

Ia menutup handphone. Melihatku sebentar, melihatku yang tetap mencoba untuk tidak melihatnya. Kemudian ia masuk ke toilet. Keluar dari sana setelah menit-menit berlari, dengan tisu untuk mengeringkan mukanya. Berjalan menuju ke arahku, membuang tisu ke kaleng sampah, dan tersenyum kecil ketika aku melihatnya.

Aku menggerakkan kepalaku ke arah kursi di sebelah kiri. Memintanya untuk duduk di sebelahku. Dia hanya duduk dan kemudian diam. Aku mulai bertanya, “Ada apa?”. Dia menjawab, pertengkaran-pertengkaran kecil dengan dirimu, seolah itu sudah biasa terjadi.

Aku benci melihatnya seperti ini. Hanya karenamu yang datang tiba-tiba, mengambil tawanya lewat udara. Kuambil handphone-ku dan mengirim SMS.

Handphone-nya berdering singkat, dan ia membaca sebuah SMS.

“Smile, dong…! Muka lo jelek banget kalo kaya gitu”

Ia tersenyum lebar dan melihatku. Aku tau, dia siap untuk tertawa lagi.

BAPAK KOST YANG KOK LUPA SAMA SAYA

Hari ini saya lihat lagi mantan bapak kost saya itu. Duduk dia dengan tua dan seorang kakek penjaga kompleks. Pakai baju putih beliau, habis menunaikan apa itu yang bikin dia kiranya bisa masuk surga.

Dia lihat karimun saya yang merah marun berjalan di depannya. Lihat juga ke dalam kaca mobil saya. Sekedar lihat apa dan siapa isinya. Karna toh dia tak akan ingat.

Saya lempari senyum yangmana lemparan itu tidak akan menyakitinya. Senyum. Yang lebar. Supaya penglihatannya yang sudah mulai terbawa usia itu, bisa lihat gigi saya. Supaya dia sadar. Oh, itu, yang putih itu gigi. Oh, itu, itu artinya sebuah senyuman yang berubah cengiran.

Dia balas senyum saya dengan lemparan yang sama. Oh, saya mengenal beliau. Tapi mungkin saya sudah pergi tanpa permisi dari ingatannya yang tua.

Beliau tersenyum, tersenyum yang mungkin cukup untuk kamu yang asing, yang coba ramah terhadapnya. Ini senyum untukmu, wahai bapak… Hiduplah dengan kenangan-kenangan yang hilang di pikiranmu dan janganlah bersedih. Kenangan-kenangan itu ada di pikiran saya dan orang-orang yang pernah mampir di hidupmu. Kenangan itu ada pada kami.

why o why o why o why.. oh mine...

He’s on the phone yelling at you.
You know, left him
You said, ‘No’
How can u stay?

I know we can’t be together
I just can be your brother
And you’re just too sweet.
Oh, could you be mine?

He’s calling again,
Asking where are you now.
You said lie.
You are alone.
Why you should lie?
Why don’t you tell him we are together?

I don’t know how much you care about me
These feelings...
Seems weird for me
This is forbidden
May be you realize

I know we can’t be together
I just can be your brother
And you’re just too sweet.
Oh, could you be mine?

He’s calling again,
Asking where are you now.
You said lie.
You are alone.
Why you should lie?
Why don’t you tell him we are together?

Oh why…
Why should we meet?
Why should I be your brother?
Oh why…
Why you?

Simpanlah, ya..

Suatu hari, kiranya kalau kita bisa bertemu lagi, ingat saya dan tiap tawaan yang pernah kita lewati bersama, ya.

Jangan pernah jadikan saya tembok baja. Saya mungkin pernah menjadi tembok di hidupmu. Namun, jadikan saya tembok bata yang mudah kamu hancurkan dan kemudian kamu lewati.

Saya sayang dengan diri kamu, mungkin saya juga pernah merasa tidak bisa ditinggalkan olehmu. Tapi, percayalah, menghadapi ini ternyata jauh lebih ringan dan mudah, untuk saya jalani.

Saya juga mungkin hancur pada detik-detik pertama, namun saya ingat kamu pasti bahagia. Dan saya jadi lebih bahagia mengetahuinya.

Jangan jadikan dia tempat yang strategis untuk kamu berlari ya. Berlari menjauhi saya. Dia akan menjadi tempat yang nyaman untuk kamu merebahkan hidupmu yang mungkin sudah lelah.

Pergilah kamu, ya. Jangan lagi menoleh ke belakang. Yakinkan hatimu, ya… Hidupmu pasti akan indah.
Saya dulu pernah ada di sisi kamu untuk beberapa waktu yang mungkin tidak banyak namun sangat berarti. Lalu saya pernah berjalan seakan-akan di depanmu. Beberapa langkah lebih dulu. Seakan-akan saya bisa saja tiba-tiba berlari kencang, meninggalkan kamu. Beberapa saat, saya juga pernah berjalan di belakangmu. Mengikutimu. Seperti kembar dengan bayanganmu. Membuat langkahmu makin berat dan melelahkan.

Tapi sekarang, meski saya tetap berjalan, saya tak lagi ada di dekat kamu. Kamu akan punya orang lain yang baru. Yang tidak seperti saya. Jangan cari saya di dirinya, karena kamu malah akan menyakitinya dan kecewa.

Saya, bagian dari cerita kamu untuk teman, adik atau siapapun yang mirip dengan kisah kita. Ingatkan mereka untuk berani mengangkat wajah, meski belepotan lumpur dan airmata.

Tetaplah kuat dan tersenyum ya…

Kita memang akan sampai disini.

Kamu sudahi saya, saya sudahi kamu.

Kita akan bahagia. Yakin ya…



Inspired by: I'll be there - Michael Jackson

"...If u should find someone new, I know.
he better be good to you.
cause if he doesn't,
I'll be there..."

"...whenever you need me, I'll be there.
I'll be there to protect you.
with an unselfish love, I respect you..."

Terbangun

Pagi ini saya tertampar angin pagi yang dingin dan lembab karna embun. Membuat saya terbangun. Ada kuda terbang di sebelah saya. Mengelus rambut saya dengan hidungnya. Ada kupu-kupu berjubah pelangi membawa sari bunga dan meletakkannya di rambut saya. Ada burung gagak merah dengan mata hijau, sedang membangun rumah jerami dengan gagak warna warni lainnya.

Saya melihat ke sekitar. Bangun. Berjalan. Menyibak semak berries. Melewati rumput tinggi berbunga putih. Ada bunga edelweiss kering. Saya mengambilnya dan menyimpannya di saku rok saya yang terbuat dari bunga sepatu. Saya berjalan lagi. Melompati rumah semut dan rumah tikus.

Saya mengangkat kepala, menatap langit. Langit berwarna biru muda, awan berwarna pink, matahari berwarna jingga. Saya merentangkan tangan. Hangatnya matahari masih belum terasa. Saya berusaha mencari dalam benak. Apa yang saya cari? Saya kehilangan. Tapi tidak ingat apa yang hilang.

Saya tidak lagi mendongak. Saya menatap ke bawah. Ada bunga putri malu, membengkok karena terinjak. Saya mengangkat kaki saya dan merasa bersalah telah menginjak bunga putri malu. Saya mengelusnya dan ah, tertusuk durinya.

Saya mengecap jari saya yang berdarah. Kembali berjalan. Melewati rambut-rambut pohon beringin. Menemukan tempat tidur dari daun pohon pisang. Dan merebahkan diri disana. Terlelap. Satu detik… Dua detik… Saya tertampar angin dingin lagi. Saya terbangun.

Ada melon tersenyum membawa lollipop merah-biru-kuning-putih. Melambai ke arah saya. Seekor kelinci melompat keluar dengan sepatu heels, menyusul kemudian tupai bertuxedo abu-abu. Saya bangun. Berjalan. Ada kerang meninggalkan rumahnya untuk rayap-rayap. Saya bertanya, apa saya kehilangan sesuatu? Mereka menjawab, tidak.

Saya berjalan ke arah cahaya merah muda. Ada bunyi musik. Saya menari sambil mendekati cahaya merah muda. Semakin dekat, semakin sadar. Semakin dekat, semakin ingat. Saya bernyanyi pelan. Tertawa. Mengingat ternyata kamulah yang hilang. Saya menari dan berlari makin cepat. Bernyanyi makin cepat dan keras. Sampai pada akhirnya saya menangis. Airmata ini terjun ke tanah, meninggalkan warna ungu pekat. Saya terus menangis sampai baju saya basah dan berwarna ungu. Saya mengejar cahaya merah muda. Dan menangis makin kencang.

Itu suara musik yang keluar dari bibirmu, seperti kotak musik. Kamu bernyanyi lagu kepergian. Mengingatkan saya kamu telah hilang. Dulu kamu pernah memberikan saya gelang bunga dandelion. Yang akhirnya saya simpan di saku rok saya. Saya mendekati kamu. Mendekati cahaya merah muda.saya ingin kamu tau bahwa saya masih menyimpan gelang dandelion pemberian kamu. Saya merogoh saku, dan yang saya temukan adalah bunga edelweiss kering. Kamu tersenyum sedih dan melambaikan tangan. Kamu berkata,

“Ini lagu terakhir dari saya untuk kamu…”

Cahaya merah muda memudar…

Kamu pergi dan saya mengejar kamu, tapi tak ada apa-apa. Semua kosong. Hanya saya dan bunga edelweiss kering di genggaman saya. Saya menangis, mengelap airmata di kedua mata saya. Dan bulu mata saya berjatuhan ke tanah. Membuat dentingan keras yang nyata dan sunyi.

ketika pulsa dan asinnya air selat memisahkan kita

Wah, kamu jauh sekali disana. Kiranya apa mungkin kita bisa bertemu dalam waktu se-jam lagi, tanpa menggunakan pesawat yang harganya mahal itu?

Setiap malam, setiap jam memukul-mukul waktu-untuk menunjukkan ini sudah 11.00 WIB, saya bisa mendengar suara pacar saya. Kami bertemu dan tertawa bersama hanya saat jam 11.00 malam berdentang. Indahnya, tidak seperti Cinderella yang hanya punya waktu sampai jam 12.00 malam. Saya sih sampai jam 17.00 keesokan hari. Dengan biaya nelpon 100 rupiah/pencet tombol hijau.

Ah tapi itu dulu. Sekarang, per menit sudah 100 rupiah. Dan nelpon 100 rupiah/pencet tombol hijau itu Cuma dari jam 00.00 – 07.00. Kau kira saya ini bartender cafĂ©? Hidup di jam-jam segitu??

Saya dan pacar saya, selalu hunting provider murah. Karena apalagilah yang saya punya selain provider yang mampu menghubungkan saya lewat handphone dengan pacar saya?

Sudah lama saya mengagumi provider yang satu ini. Tapi sekarang saya sudah tidak kagum lagi. Saya sudah kehabisan uang demi membeli pulsa mereka, saking mahalnya biaya bercakap-cakap. Dan tidak akan mampu saya apabila hanya berkomunikasi lewat SMS. Karena tidak terlihat emosi di dalam sana.

Saya mulai kebingungan mencari jembatan yang kokoh untuk mempertahankan komunikasi. Oh kini saya menyadari betapa sulitnya menemukan kemurahan dalam sebuah provider. Karena 0,1 rupiah adalah bohong, apalagi yang mengaku gratis. Jembatan yang saya cari adalah jembatan yang mampu membawa jarak 1 jam 45 menit-dengan pesawat murahan, ke kuping saya. Seakan berada dekat. Seakan dia sedang bicara dekat-dekat di kuping saya. Seperti bisik-bisik dengan suara keras.

Saya butuh jembatan yang kokoh, yang mur-nya tidak bisa dicolongi orang. Yang buntut-buntutnya malah akan merobohkan jembatan saya. Yang bikin saya tidak bisa nyebrang.

Oh tolonglah Bakrie, mungkin anda bisa menciptakan provider GSM yang murah. Toh duit sudah banyak ini. Apalah artinya membagi sedikit untuk orang-orang bernasib seperti saya?

Ah, saya tambah bingung. Kemana harus saya mencari pertolongan agar saya bisa bercakap-cakap lama dengan pacar saya seperti dulu?


Mungkin sekarang kalian yang tinggal serumah atau mungkin berdekatan, yang bisa saling melihat dengan seringnya, akan lebih menghargai waktu berdua kalian. Yang tidak berat di ongkos. Yang mudah untuk bertemu, kapan saja ingin bicara atau mungkin hanya duduk berdua dilewati petang. Karena selagi kalian bersama, hargailah apa yang ada, manfaatkanlah apa yang dipunya. Karena waktu tidak dapat dibeli dan diisi ulang seperti pulsa handphone.





*Ada yang tau provider murah untuk nelpon dari Jakarta-Bali dan sebaliknya? hehe :p
MIRA.PARAMITHA

Rabu, 16 Desember 2009

“Sayangi saya..” kata diri saya kepada saya.



PERNAH melihat saya dari atas ke bawah? Dimulai dari atas, kamu akan melihat saya seperti ibu saya. Oh, kamu kenali saya ini berkelamin perempuan. Turun sampai ke bawah dengkul, kamu mulai meragu. Kamu akan melihat saya seperti ayah saya. Itu kaki yang tidak seindah kaki Paris Hilton atau beberapa perempuan yang kakinya dekat dengan ukuran Paris Hilton.

Hahaa, kaki saya ini besar. Bagian yang paling gembira berkembang sendiri dibanding bagian tubuh yang lain. Bagian yang paling rakus, yang selalu antri paling depan dan mau dapat bagian yang paling banyak ketika tubuh saya membagikan lemak.
Saya tunjukkan padamu. Ini kaki besar yang bukan karena kaki gajah. Entah saya ini keturunan Arab atau bukan, segala macam rambut tumbuh dengan ganas dan senang hati. Hehe. Kadang-kadang saya malu, tapi kadang-kadang saya capek dengan kemaluan, eh, maksud saya, capek dengan perasaan malu itu. Dan membiarkan kaki besar saya lebih mirip kaki Mike Tyson. Besar dan… ehem… lebat… xixixi…

Agak turun sedikit, akan kamu dapati betapa telapak saya bantet seperti roti gagal panen (Heh? Aneh. Maksudnya?). Dan wahai jemari kaki, mereka mungil dan subur. Seperti bayi obesitas. Terutama induk dari para jari, dia yang terbantet dan pemilik kuku terbesar pun terlebar. Hehe. Suatu hari yang remang, saya dan kakak-kakak saya yang semuanya Alhamdulillah masih tetap laki-laki, berlomba jempol. Dan jempol saya keluar sebagai pemenang Jempol Terbesar di keluarga kami.

Itu, meskipun saya anggap satu dari tujuh keajaiban diri saya, tetap merupakan bagian dari saya yang patut saya syukuri. Syukurin kau, kebagian kaki yang bantet. Hehe… Nggak-nggak… saya hanya bercanda. Kaki ini, dibuat di dalam perut mama saya dengan sebegitu rupa, agar jika nanti saya hilang, cukup cantumkan foto kaki saya di selebaran yang akan disebar. Sehingga justru lebih mudah menemukan saya daripada meletakkan foto muka saya disana.

Saya dulu, ingin punya kaki yang kecil dan lucu seperti kaki-kaki wanita China yang putih dan merah-merah di sudut-sudut telapaknya. Tapi toh saya bukan China. Saya ini Indonesia. Asli dan tulen sekali. Hihi… Sehingga sekarang saya tumbuh bangga dengan kaki saya ini. Bangga dengan kaki yang benar-benar Mike Tyson ini. Yang besar, lebat dan banyak bekas luka dimana-mana. Hasil pergaulan anak kampung pada masa kecil. Yang meskipun bikin kaki saya beda warna (ada yang hitam, ada yang coklat) dan bercorak (ada yang mulus, ada yang lebam, ada yang carut marut), tetap saya sayangi karena itu semua saya. Dan itu semua adalah sejarah hidup saya.

Sejarah bahwa saya ini pernah ikut mencoba mencukur semua apa yang kaki saya miliki sehingga membuatnya makin kribo. Bahwa saya ini pernah ikut mencoba jatuh dari motor dan sepeda, menyebabkan sekarang saya mahir membawa motor sambil kebut-kebutan. Bahwa saya ini memang jarang berolah raga dan berlari, sehingga kaki saya lembek dan kurang berbentuk (gemuk sedikit,saya akan bingung yang mana betis, yang mana paha. Hehe).

Saya cinta kaki saya. Perpaduan kaki mama dan papa saya. Biar orang-orang yakin, saya ini bukan anak adopsi. Saya keluar dari perut mama saya yang selama ini saya sayang dan saya anggap mama. Supaya orang yang ingin membuktikan bahwa saya ini anak papa saya, hanya dengan melihat betapa miripnya kuku kaki kami. Agar mereka yang melihat kami berdua berjalan beriringan, tidak akan menganggap papa saya punya istri muda diam-diam. Hehe. Ini saya loh, anak papa dan mama saya.

Ayo ikut sayangi dirimu!

Kamu punya kaki yang lebih bagus dari saya. Kamu punya kuku kaki yang lebih lucu dari saya. Kamu punya kaki yang jauh lebih mulus dan polos daripada kaki saya. Kamu punya rambut yang jelas orientasinya kemana (keriting atau lurus). Kamu punya banyak hal yang baik, yang mana itu nantinya akan membuat kamu berbeda dan unik. Karena kita memang dilahirkan berbeda dan punya kelemahan-kelemahan untuk kita cintai.

Senin, 16 November 2009

SEMU ITU KAMU. SEMUA ITU KAMU.

SEMU ITU KAMU. SEMUA ITU KAMU. September 28, 2009 15:11

Kemarin saya menangis, kamu yang ada di telpon genggam saya, mendengarkan airmata saya jatuh.

Kemarin saya marah, kamu yang ada di telpon genggam saya, menyiram air untuk api saya berhenti berkobar.

Kemarin saya ingin ditemani tidur, kamu yang ada di telpon genggam saya, menemani dalam diam hanya untuk mengusir sepi.

Kemarin saya ingin ngobrol, kamu yang ada di telpon genggam saya, cerita tentang dunia kamu dan dunia saya.

Kemarin saya sedih, kamu yang ada di telpon genggam saya, melemparkan tawamu lewat gelombang.

Hari ini saya ingat kamu, kamu yang ada di telpon genggam saya.

Compang camping kuacak-acak otakku

“Compang camping kuacak-acak otakku, kamu tetep aja ga ada. Sembunyi dimana sih?”

Bagai terbakar bulu hidung,bau sangit, saya mencari HP di sekujur tas saya, namun tak kunjung dia menyahut dalam pikiran saya untuk kasi ingat bahwa saya lupa bawa dia pergi.

Memang Cuma sepersepuluh jalan yang baru saya lewati setelah antar barang untuk kembali diantar oleh kilat, tapi itu lumayan. Lumayan dalam ukuran Depok-Jakarta. Sepersepuluh jalan tidaklah sedikit. Membuat saya baru sampai di rumah untuk jemput hape, pada pukul 13:40. Dan kuliah mulai pada muka jam 15:00.

Itu hanyalah 80 menit, waktu perjalanan yang saya miliki untuk sampai di London—London School of PR Jakarta. Sedangkan perjalanan yang saya butuhkan dengan membawa ngebut mobil saya secara membara, adalah 120 menit. Akan tiba saya di kampus pada pukul 15:40 dan kuliah berakhir pada 16:30.

Maaf bu Dosen, hidup ini memang begitu. Muridmu ini hanya tak ingin kau anggap malas karena datang telat. Lebih baik tak datang dan bilang diri ini dirundung sakit ringan, yang akan berat jadinya jika dipaksakan berangkat ke kampus. Jadi kau anggap saya ini penyakitan dan malah kasihan dan malah bantu saya dalam belajar dan malah beri saya perhatianmu yang sedikit itu.

SO LET ALL THIS GO...

When it comes,
know that love is forbidden,
I think it's time to let go.

But the more I want to go,
the more I continue to remember.
How long I'll keep this up?

It’s time to face the reality.
All should’ve lost no residual.

I have chosen.
And when it was, I was ready with all the risks that I should bear.
Including to forget this

I hope,
though I should not love you,
I can still take care of you in my heart.

So that no one hurt.
Not you, me or him.

We all have to be happy...
So let all this go...

Surat Untuk-Mu.

ALLAH, hari ini telah 4.40 WIB. Kau panggil aku berkali-kali lewat adzan untuk menyolatkan subuh. Hatiku tergerak, mencari mukena dan sajadah. Namun tak kutemukan.

Aku diam dan bingung. Bolehkah aku tidak memakainya? Haruskah kulanjutkan niatku untuk-Mu?

“Lebih baik sholat daripada engkau tidur” ucap Adzan.
Kucari akar saat rotan tak berguna.

Kutemukan sarung, jaket, pashmina, dan sprei. Kukenakan sarung dan jaket untuk menutupi tubuhku. Kulilitkan pashmina menutupi rambutku dan kulebarkan sprei sebagai alas sholatku.

Ya Allah, terimalah niat dan sholatku juga hatiku untuk-Mu.

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakaatuh…



With Luv, M.